Culture

Culture: Menjaga Tradisi di Tengah Gempuran Layar Gadget—Emang Masih Relevan?

Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau kata “budaya” itu kedengerannya berat banget? Begitu denger kata itu, pikiran kita seringkali langsung lari ke museum yang berdebu, buku sejarah yang tebelnya minta ampun, atau tarian kaku yang cuma muncul pas acara kenegaraan. Seolah-olah budaya itu barang antik yang harus ditaruh di dalam lemari kaca, dipandang doang, tapi nggak boleh disentuh apalagi dibawa main.

Padahal, kalau kita mau jujur, budaya itu sebenernya cair banget. Dia nggak kaku. Budaya itu hidup di dalam cara kita nyapa tetangga pas pagi hari, ada di rahasia bumbu dapur ibu yang bikin masakan rumah selalu kangenin, sampai ke urusan remeh-temeh gimana kita memperlakukan tamu. Budaya adalah cara kita hidup. Tapi masalahnya, sekarang kita hidup di era di mana jari kita jauh lebih sering nyentuh layar gadget daripada nyentuh tanah atau bersosialisasi langsung.

Tantangannya jadi makin nyata: gimana cara menjaga tradisi ini tetep “berisik” di tengah bisingnya dunia digital?

Kita nggak bisa pungkiri, godaan buat jadi “seragam” itu gede banget. Internet bikin kita semua nonton film yang sama, dengerin musik yang sama, dan akhirnya punya gaya hidup yang hampir mirip satu sama lain. Kalau kita nggak waspada, identitas kita yang unik bisa pelan-pelan pudar, keganti sama tren global yang sebenernya nggak punya akar di diri kita. Menjaga budaya di zaman sekarang itu emang menantang, tapi bukan berarti kita harus jadi orang yang “anti kemajuan” atau nolak teknologi. Justru, kuncinya ada di gimana kita berani buat “main” sama tradisi itu sendiri.

Liat aja sekarang, banyak banget kreator muda yang cerdasnya minta ampun. Mereka nggak takut buat nabrakin elemen tradisional sama modernitas. Ada pemusik yang berani masukin dentuman gamelan ke dalam genre elektronik yang jedag-jedug, atau desainer yang bawa motif batik jadi streetwear yang keren banget dipake nongkrong di pusat kota. Ini bukan perusakan budaya, lho. Justru ini adalah cara supaya nilai-nilai lama itu tetep punya “napas” dan kerasa nyambung sama kehidupan anak muda sekarang.

Menjaga tradisi itu bukan berarti kita harus terjebak di masa lalu. Bukan berarti kita harus pake baju adat tiap hari ke kantor. Tapi lebih ke gimana kita bawa nilai-nilainya—kayak gotong royong, sopan santun, dan rasa syukur—ke dalam aktivitas harian kita yang serba digital ini. Budaya itu ibarat jangkar. Sejauh apa pun teknologi bawa kita lari mengejar masa depan, jangkar inilah yang bikin kita nggak bakal kehilangan arah. Kita jadi tau siapa kita, dari mana asal kita, dan kenapa kita beda.

Di lafarga.co, kita percaya kalau budaya yang kuat adalah budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensinya. Di tengah gempuran konten-konten luar yang masuk lewat media sosial, punya pegangan pada tradisi sendiri itu rasanya kayak punya “rumah” tempat pulang. Jadi, jangan malu buat belajar lagi soal asal-usulmu. Jangan males buat nanya resep masakan tradisional ke nenek, atau sekadar cari tahu arti di balik motif kain yang kamu pakai.

Karena pada akhirnya, budaya kita nggak bakal hilang karena teknologi, tapi dia bisa mati kalau kita sendiri sudah nggak peduli dan nganggep dia nggak keren lagi. Yuk, mulai rayain budaya kita dengan cara masing-masing. Biarin dia tumbuh, berubah bentuk, dan tetep relevan, supaya anak cucu kita nanti nggak cuma tau soal budaya dari layar gadget, tapi juga ngerasain langsung denyut nadinya di kehidupan nyata.

Rayyan Khalid

About Rayyan Khalid

Halo! Saya Rayyan Khalid, penulis dan penggiat perjalanan di balik Lafarga.org — sebuah ruang yang terinspirasi dari keinginan untuk menjelajah dunia dan memahami keindahan budaya di setiap langkah. Bagi saya, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan cara menemukan cerita, makna, dan nilai kehidupan dari setiap destinasi. Melalui Lafarga.org, saya berbagi pandangan, kisah budaya, rekomendasi hotel, promo perjalanan, hingga tren wisata terbaru bagi siapa pun yang mencintai dunia dan keberagamannya. Di luar menulis, saya senang memotret suasana lokal, mencicipi kuliner khas, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat untuk memahami kehidupan dari sudut yang berbeda. Selamat datang di Lafarga.org — tempat di mana setiap perjalanan bermakna dan setiap cerita layak dibagikan.
View all posts by Rayyan Khalid →