Travel Trends

Kenapa Slow Travel Bisa menghilangkan Stres?

Pernah nggak sih, baru juga sampai rumah habis liburan seminggu, tapi rasanya malah pengen pingsan dan butuh libur tambahan sebulan? Pinggang encok, kaki pegel, dan otak rasanya malah makin penuh. Bukannya seger, kita malah ngerasa kayak habis kerja rodi.

Ya gimana nggak, dari jam 4 subuh sudah harus lari-lari ngejar sunrise, lanjut ke sepuluh tempat wisata dalam sehari, cuma biar dapet foto yang “pantes” dipajang di sosmed. Kita sibuk banget liat layar HP buat cek rute, sampai-sampai lupa kalau di depan mata ada pemandangan yang sebenernya cantik banget.

Jujur aja ya, gaya liburan yang kayak balapan maraton itu beneran bikin stres. Di tahun 2026 ini, orang-orang sudah mulai capek sama gaya hidup yang serba buru-buru. Makanya, muncul tren yang namanya Slow Travel. Tapi ya, jangan fokus sama istilah kerennya. Intinya itu simpel banget: berhenti jadi turis yang cuma numpang lewat buat setor muka.

Coba deh bayangin. Daripada kamu ambisius pengen keliling lima kota dalam seminggu (yang sebenernya cuma dapet capeknya doang), mendingan kamu “ngendon” atau diem di satu desa atau kota kecil saja. Nggak usah pasang alarm.

Bangun pas matahari sudah agak tinggi, terus jalan kaki santai ke pasar. Nggak usah cari tempat makan yang viral, coba saja duduk di warung kopi paling pojok yang isinya bapak-bapak lokal lagi asyik ngobrolin harga sayur.

Di situ kamu bakal nemuin hal-hal kecil yang biasanya lewat gitu aja kalau kamu buru-buru. Bau tanah habis hujan, suara burung yang beda sama di kota, atau sesederhana cara orang lokal nyapa kita dengan tulus. Ini tuh soal koneksi. Kita itu manusia, bukan mesin yang cuma butuh data koordinat GPS. Kita butuh rasa.

Dengan cara pelan kayak gini, kamu punya waktu buat ngobrol sama penjaga penginapan, dengerin cerita soal sejarah rumah tuanya, atau malah belajar dikit-dikit bahasa daerah setempat pas lagi jajan gorengan.

Percaya deh, kenangan-kenangan “receh” kayak gini yang biasanya malah nempel di kepala sampai bertahun-tahun. Jauh lebih berkesan daripada seribu foto estetik yang ujung-ujungnya cuma menuh-menuhin memori HP doang.

Banyak yang bilang, “Nanti kalau kelamaan di satu tempat, jadi bosen dong?” Wah, justru sebaliknya. Pas kita diem lebih lama, kita baru bisa nemuin “harta karun” yang nggak pernah masuk di buku panduan wisata mana pun. Kamu jadi tau gang kecil mana yang punya kedai mi paling juara, atau sudut pantai mana yang paling asyik buat bengong tanpa keganggu kerumunan orang yang sibuk selfie.

Di lafarga.org, kita ngerasa kalau jalan-jalan itu harusnya bikin kita ngerasa lebih “hidup” lagi. Bukan malah bikin kita makin kayak robot yang dikejar target setoran. Slow travel itu ngajarin kita buat sabar, buat tenang, dan yang paling penting: berani buat nggak ngapa-ngapain tanpa ngerasa ketinggalan apa pun.

Jadi, buat rencana jalan-jalanmu besok, coba deh pangkas itu daftar kunjungan. Sisain waktu buat “tersesat” tanpa tujuan. Karena biasanya, momen paling ajaib dalam sebuah perjalanan itu baru muncul pas kita berhenti buru-buru dan mulai menikmati napas kita sendiri. Siap buat liburan yang beneran bikin waras?

Rayyan Khalid

About Rayyan Khalid

Halo! Saya Rayyan Khalid, penulis dan penggiat perjalanan di balik Lafarga.org — sebuah ruang yang terinspirasi dari keinginan untuk menjelajah dunia dan memahami keindahan budaya di setiap langkah. Bagi saya, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan cara menemukan cerita, makna, dan nilai kehidupan dari setiap destinasi. Melalui Lafarga.org, saya berbagi pandangan, kisah budaya, rekomendasi hotel, promo perjalanan, hingga tren wisata terbaru bagi siapa pun yang mencintai dunia dan keberagamannya. Di luar menulis, saya senang memotret suasana lokal, mencicipi kuliner khas, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat untuk memahami kehidupan dari sudut yang berbeda. Selamat datang di Lafarga.org — tempat di mana setiap perjalanan bermakna dan setiap cerita layak dibagikan.
View all posts by Rayyan Khalid →